September 6, 2005

Haram

Filed under: Tulisan, cerita 100 kata

“Apa yang sedang kamu kerjakan anakku?”

“Aku sedang mengerjakan PR, Bu.”

“Kamu sekarang rajin sekali nak. Ibu sering lihat kamu belajar sendiri sampai malam. Kamu juga rajin sholat sekarang. Ibu bangga sama kamu sayang.”
Sang Ibu tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca.

“Kata ayah, aku harus rajin belajar. Harus rajin sholat. Harus rajin membantu Ibu.”

“Kamu memang anak berbakti. Kamu masih ingat kata-kata almarhum ayahmu rupanya.”

“Ayah setiap malam selalu datang dan menasehati aku kok Bu. Kalau aku belajar, ayah selalu menemani aku.”

“…”

“Oh iya Bu. Kata ayah, Ibu tidak boleh tidur sama Om Bayu lagi. Itu haram katanya, Bu.”

“…”

August 30, 2005

Seorang Pemburu

Filed under: Tulisan, cerita 100 kata

SEPERTI malam-malam sebelumnya, aku berkeliling di hutan belantara ini. Berburu di malam hari memang sangat menyenangkan. Banyak yang bisa aku bidik dengan panahku ini, senjata andalanku yang sudah menemani selama beberapa tahun belakangan.

Ah itu dia! Aku melihat salah satu calon buruanku sedang meloncat-loncat di antara semak-semak berduri.

Dengan sigap aku ambil busurku, dan memasang panahnya.
Bidik… Lepaskan…

Wuuuuuuzzzz…..

Aaaaahhhhhhhhhhh!!!

Panahku berhasil mengenai buruanku saat kudengar pekik kematian buruanku.

Aku berlari menuju arah buruanku. Panahku tergeletak disana. Buruanku sudah lenyap tak berbekas.

Ah, memang panah suci bermata perak-ku ini begitu hebatnya. Tak ada satupun setan-setan itu yang tidak lenyap dibuatnya.

August 16, 2005

Gosip Laki-Laki

Filed under: Tulisan, cerita 100 kata

Teman-teman kantorku kadang menggunjingkan aku.
Heran, padahal mereka lelaki. Bukannya laki-laki tidak suka bergosip?

Gara-garanya karena aku tidak pernah buang air kecil di uriter, tetapi masuk kamar mandi.

Mereka bilang karena kemaluanku terlalu besar, sehingga tidak enak bila dilihat yang lain. Sebagian bilang karena kemaluanku terlalu kecil. Semua memperdebatkannya. Bahkan sampai ada yang taruhan.

Tetapi aku punya alasan kenapa aku tidak pernah buang air kecil di uriter.

Awalnya sepuluh tahun yang lalu. Saat istriku memotong kemaluanku setelah memergoki aku selingkuh dengan seorang lelaki.

Tetapi aku tidak menyesalinya, karena tak lama kemudian aku punya kelamin baru.

Persis bentuknya seperti kemaluan istriku

Suatu Hari Di Acara Arisan

Filed under: Tulisan, cerita 100 kata

Seperti biasa mereka menggerutu tentang kelakuan suami-suami mereka.

Beberapa mengeluhkan kemampuan suami mereka di atas ranjang. Kurang jantan, itu kata mereka.

Beberapa lagi mengeluhkan kelakuan suami mereka yang gemar jajan di luar. Apa kurangnya pelayanan mereka, gerutu istri-istri itu.
Menurutku karena memang mereka tidak sehebat seperti saat muda.

Seperti biasanya aku hanya terdiam tanpa berkomentar sedikitpun. Mereka mendelik iri terhadapku. Mungkin mereka pikir aku tidak pernah punya masalah dengan suamiku.

Memang sih, suamiku pernah selingkuh. Tapi itu dulu, sepuluh tahun yang lalu.

Sejak aku potong kemaluannya, ia tidak pernah selingkuh lagi.
Tetapi aku tetap bisa terpuaskan.

Karena sekarang aku lesbian.